Memaparkan catatan dengan label etc. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label etc. Papar semua catatan

Khamis, 14 April 2016

Aroma


Selain puisi dan sajak, aku juga suka masak. Aku selalu rasa senang bila lihat orang menikmati masakan sendiri. Semacam suatu kelegaan. Apatah lagi bila dia hulur pinggan dan tambah nasi. Jika aku tak lagi duduk di meja tulis suatu hari nanti, barangkali aku mundar-mandir di dapur, menghidu bau daun-daun herba dan rempah.

Isnin, 11 April 2016

Ketakutan



Ketakutan seseorang yang menulis puisi adalah kehilangan kata. Tapi aku rasa ketakutan yang rahsia/tak disedari oleh penulis puisi itu adalah keupayaannya untuk merasakan suasana persekitarannya. Kata tak hilang, kadang-kadang ia cuma berdiam. 

Dan kadang-kadang, berdiam itu lebih baik.

Isnin, 20 April 2015

Sebuah Renungan Tentang Ketakutan Sastera Hari Ini: Puisi Hati.

Aku duduk di kamar ini
mengenang nasib yang menimpa diri.
Celakalah si jahanam,
meninggalkan aku sendiri.

Lupakah kau pada kenangan
yang kita kongsi bersama?
Kini aku cuba mencari ketenangan
setelah kau tiada.

Jangan kembali kepadaku,
kerana sedikit pun aku tak kisah tentangmu.
Berambus dari sini!
Aku tak perlu kau lagi!

Puisi ini saya tulis dalam waktu kurang dari 5 minit. Caranya mudah, hanya perlu guna rumus rima di akhir baris dan pastikan jumlah baris adalah sama untuk setiap rangkap. Sewaktu menulis ini, saya sedang mengalami emosi yang tidak terkawal. Memang tidak ada orang yang akan mengerti tentang kesedihan saya. Puisi ini saya tulis untuk meluahkan perasaan dan cuba untuk melupakan kenangan dulu. Cinta itu perit dan tidak selalunya indah seperti yang kita selalu bayangkan. Menulis puisi adalah satu terapi dan cara untuk melupakan kenangan lalu.

Jumaat, 10 April 2015

Sekumpulan Epitaf & Surat-surat yang Lewat, cetakan kedua.

Sewaktu menulis catatan ringkas ini, barangkali buku Sekumpulan Epitaf & Surat-surat yang Lewat sudah dalam perjalanan ke pencetak untuk proses cetakan kedua. Lapan bulan yang lalu, buku ini dilancarkan di acara AFG dan saya hadir di acara itu dengan perasaan yang berbaur antara gembira, teruja serta bimbang. Ini sebuah usaha pembukuan karya saya secara rasmi setelah buku Boke pada tahun 2013. Cetakan kedua ini masih mengekalkan kulit buku serta kandungan yang sama seperti edisi sebelumnya.

Dari mata kasar, saya melihat pembaca sekalian begitu bersedia menerima dan menikmati buku ini, disamping menerima ulasan serta kritikan yang sangat membantu dan mendorong untuk menghasilkan karya yang lebih membangun dan berpendirian. 

Jutaan terima kasih saya ucapkan untuk pembaca sekalian serta pihak penerbit yang bertungkus-lumus menyediakan terbitan ini. Buku ini adalah kesilapan-kesilapan waktu silam dan mengangkat tema yang dekat dengan kita sebagai manusia. Seseorang itu membaca puisi bukan untuk merasakan kesunyian penulisnya malah untuk menyedari bahawa manusia hidup sesama sendiri dalam kesunyian masing-masing di dalam satu lingkungan besar dan tidak lagi merasa sendiri. 

Untuk mendapatkan buku ini, sila lawati laman selutbooks.com atau anda boleh hadir ke acara-acara yang disertai penerbit ini di masa akan datang. 

Rabu, 11 Februari 2015

Kata Penghantar Yang Terlewat

Sewaktu Sufian Abas menghubungi saya bertanya samada saya berminat untuk menerbitkan sebuah buku kumpulan sajak, saya mengambil waktu yang agak lama untuk memutuskan samada untuk setuju atau tidak. Alasan yang pertama, saya belum mengumpul sejumlah sajak yang saya rasa sesuai untuk diterbitkan dan yang kedua, saya tidak pasti samada sajak (mahupun pekerjaan menulis) adalah arah yang ingin saya tujui. Yang pasti, saya belum menemui sebuah jawapan yang jitu untuk alasan kedua.

Epitaf adalah sebuah buku yang penuh kejutan untuk diri saya sendiri. Saya tak pernah menanam harapan untuk buku ini, apatah lagi membaca dan mendengar beberapa ulasan yang terlalu baik dari teman-teman dan pembaca sekalian. Jutaan terima kasih untuk setiap kata-kata yang baik, mengkritik dan apapun pandangan anda terhadap buku ini. Saya tidak pernah merancang seperti apa perjalanan pekerjaan menulis saya di masa hadapan namun saya berharap agar saya sendiri dan kalian mendapat manfaat dari minat serta usaha untuk memeriahkan bidang ini.

Sajak-sajak dalam buku ini saya tulis dan kumpul dalam tempoh 3 tahun semenjak 2011, sebelum ia terbit pada tahun 2014. Secara dasarnya, tema-tema yang terkandung dalam Epitaf adalah tentang renungan waktu lalu, tentang kesunyian, dan hubungan dua individu. Saya memilih untuk mengumpul sejumlah sajak yang mempunyai suara dan suasana yang agak senada dalam buku ini kerana hal-hal seperti ini adalah sesuatu yang intim dan ditandai makna yang boleh saja difahami oleh pembaca. Sungguhpun begitu, saya harus mengakui, terdapat sejumlah sajak yang tertulis dalam keadaan terburu-buru tanpa mengikuti kritiria dan semakan telus yang telah saya tetapkan sendiri. Walaupun begitu, sajak seringkali mempunyai sifat ambiguity dan ini adalah kebetulan yang memuaskan. Saya ingin sekali berbual tentang proses kreatif menulis buku ini namun rasanya lebih afdal jika anda sendiri bertanya tentang apa yang ingin anda ketahui secara tepat dan jelas.

Sememangnya menulis sajak bukan sebuah pekerjaan yang mudah malah menuntut emosi yang menyeluruh samada dari segi hubungan peribadi sesama keluarga atau teman-teman tercinta mahupun antara orang-orang yang bakal kita temui atau sekadar berselisih bahu di stesen keretapi. 

Apapun, berikut adalah ulasan tentang buku Sekumpulan Epitaf Dan Surat-Surat Yang Lewat di DailySeni dan seterusnya oleh Ainunl Muaiyanah. Anda juga boleh membaca beberapa ulasan ringkas buku ini di laman Goodreads.

Jika anda belum berkesempatan untuk memiliki buku ini, buku ini boleh didapatkan dari kedai buku utama atau terus saja ke laman web Selut-SFP. 

Rabu, 26 November 2014

1

Kebanyakan penulis-penulis sajak yang timbul akhir-akhir ini kelihatannya cenderung berdiri dan memegang spanduk yang tertulis idea dan perjuangan mereka yang kelihatan amat terburu-buru. Tak diketahui sebabnya kenapa sajak dipilih sebagai pengantarnya. Mengapa bukan esei? Mengapa bukan novel? Mengapa bukan sekadar laungan suara? Mengapa harus mendera sajak?

I have nothing against the new kids on the block tapi hal seperti ini sedikit sebanyak menunjukkan betapa penulis itu tidak peduli tentang kepentingan kata, sekaligus menunjukkan betapa lemahnya penguasaan mereka terhadap fungsi kata dalam sesebuah sajak. Sebuah sajak yang bagus mempunyai sifat simbolik yang kukuh dan berkesan: sifat simbolik ini disampaikan melalui pilihan kata yang tepat, sekaligus menghadirkan kesan visual kepada para pembacanya. 

"Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban idea", demikian ujar Sutarji Calzoum Bachri dalam kredo puisinya. Dengan kenyataan sedemikian, dia bukanlah mengatakan bahwa kata itu harus bebas dari makna asalnya. Maknanya tetap jelas tetapi lewat penggunaan dan kedudukan kata tersebut dalam sesebuah sajak, maka lahirlah sebuah visual/gambaran yang setepatnya tentang apa yang kelihatan di mata si penulis.

Sekarang, bayangkan jika sesebuah sajak itu digarap dengan idea dan kata-kata yang tersusun untuk menunjukkan betapa jelasnya keinginan si penulis untuk menyuarakan perjuangannya, bukankah perjuangan itu ternyata lebih bermakna dan menimbulkan ghairah, bukan saja dalam diri penulis itu sendiri malah terhadap pembacanya?

"Ketidaktahuan, atau mungkin sikap acuh tak acuh, terhadap peran kata-kata inilah yang telah menghasilkan sajak-sajak membosankan akhir-akhir ini. Kalau penyair menganggap bahwa yang utama adalah "ide", dan kata-kata dengan demikian menduduki tempat kedua, maka ia pun tak menciptakan puisi tetapi memberi anjuran pernyataan atau keterangan." - Sapardi Djoko Damono